Masalah Air, Masalah Distribusi

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Puslitbang SDA) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum, Suprapto, mengatakan bahwa kondisi air di Indonesia sudah begitu kritis. Pemerintah harus banyak melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk menyelesaikan kondisi tersebut.

Demikian dikatakan Suprapto pada pidato pembukaan kolokium bertajuk “Inovasi Teknologi Sumber Daya Air dan Kolaborasi Multi Sektor dalam rangka Mewujudkan Ketahanan Air dan Energi” yang digelar Puslitbang Balitbang Kemen PU di Bandung sejak Rabu (21/5/2014) hingga Kamis (22/5/2014) lalu.

“Air kondisinya sudah kritis, baik kuantitas maupun kualitasnya. Kemarau dan banjir pada musim penghujan sudah menjadi fenomena di Indonesia. Untuk mengatasinya diperlukan inovasi dan teknologi serta kolaborasi dari berbagai pihak,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Kepala Balai Bangunan Hidraulik dan Geotek Air Dwi Kristianto, Balitbang sudah melihat bahwa permasalahan air dan energi membutuhkan kerjasama multisektor. Kerjasama itu penting untuk menyelesaikan masalah air, dan juga masalah energi. Puslitbang menyediakan teknologinya, dan pihak lain yang menjalankannya.

“Jadi, permasalahan kita ini sebenarnya masalah distribusi, baik skala ruang maupun waktu. Kalau kita lihat, total ketersediaan air di Indonesia kan cukup besar. Hanya saja, distribusinya tidak merata. Ada daerah, seperti Pulau Jawa ini jumlahnya mencukupi, tapi kalau kita lihat perbandingannya dengan jumlah penduduk, ini kan besar sekali jumlah penduduknya sehingga, rasio ketersediaan air dengan jumlah penduduk itu kecil,” ujar Dwi.

Dwi membandingkan antara Pulau Jawa dan Irian. Perbedaan kedua wilayah tersebut sangat ekstrem. Di satu sisi, ketersediaan air di Pulau Jawa terbatas, namun penduduknya banyak. Berbeda dengan di Irian, meski jumlah air melimpah, penduduknya tidak sebanyak di Jawa.

Ada juga daerah lain, seperti NTT, yang jumlah penduduknya tidak terlalu banyak, namun airnya pun juga tidak banyak. Jika dilihat dari distribusi ruangnya, menurut Dwi, memang ada daerah yang sudah digolongkan kritis, misalnya Jawa.

“Direktorat Sumber Daya Air yang memiliki target-target untuk penyediaan infrastruktur yang andal. Terkait dengan itu, Puslitbang sebenarnya lebih banyak mem-backup teknologinya. Jadi, dengan inovasi-inovasi para peneliti, kita mendukung bagaimana Dirjen Sumber Daya Air merealisasikan program-programnya,” ujar Dwi.

Menurutnya, pihak Puslitbang lebih mendukung distribusi air dari penyediaan teknologinya. Teknologi yang dikembangkan pun lebih ke arah teknologi informasi, bukan fisik distribusi.

Menurut dia, informasi bisa dioptimalkan sehingga distribusi lebih mudah dikontrol. Dengan kata lain, Puslitbang menyediakan teknologi manajemen data yang bisa diolah menjadi informasi untuk mengambil keputusan. Setelah mengetahui tren, maka keputusan bisa diambil Dirjen SDA.

“Saya berikan contoh, kalau teman-teman dari Balai Irigasi itu mengembangkan sistem manajemen operasi irigasi. Selama ini managemen irigasi kan pakai manual, dari juru bawah naik ke atas. Dengan IT bisa dimonitor harian, kebutuhannya bisa dicek secara harian. Daerah sana dengan potensi sudah seperti ini airnya tidak usah banyak-banyak. Misalkan, dengan potensi panas yang seperti ini, kebutuhan airnya bisa ditambah. Itu fungsi teknologi,” ujarnya.